Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, mata terasa perih, dan tubuh sudah sangat lelah. Namun, jari Anda seperti memiliki kehidupannya sendiri terus-menerus menggeser layar (scrolling) aplikasi media sosial, membaca satu demi satu berita duka, konflik politik, bencana alam, hingga isu ekonomi yang mengkhawatirkan.
Semakin banyak berita buruk yang Anda baca, dada terasa semakin sesak dan cemas. Namun anehnya, bukannya menutup aplikasi dan pergi tidur, Anda justru semakin penasaran dan meluncur makin dalam ke dalam lubang informasi gelap tersebut.
Fenomena ini dikenal dengan istilah Doomscrolling (atau Doomsurfing). Mengapa otak manusia secara aneh justru memburu informasi yang membikin stres dan cemas? Mari kita bongkar jebakan psikologis di balik layar ponsel Anda.

1. Naluri Purba: Bias Negativitas (Negativity Bias)
Untuk memahami doomscrolling, kita harus kembali ke masa ribuan tahun lalu ketika manusia purba masih hidup di alam liar. Pada zaman itu, memperhatikan hal yang berbahaya jauh lebih penting untuk bertahan hidup dibandingkan menikmati hal yang menyenangkan.
Manusia yang mengabaikan suara semak-semak yang bergoyang (kemungkinan adanya harimau) akan mati dimangsa, sementara manusia yang selalu waspada dan mengasumsikan bahaya terburuk akan bertahan hidup dan mewariskan genetiknya.
Mekanisme pertahanan hidup ini menyisakan jejak evolusi di otak kita yang disebut Negativity Bias (Bias Negativitas). Otak kita dirancang secara alami untuk lebih cepat menangkap, mengingat, dan memproses informasi negatif atau ancaman dibandingkan informasi positif. Media sosial modern memanfaatkan naluri purba ini secara sangat sempurna.
2. Siklus Dopamin dan Ketidakpastian (Intermittent Rewards)
Mungkin Anda berpikir bahwa dopamin hanya dilepaskan saat kita merasakan hal-hal yang menyenangkan. Padahal dalam ilmu saraf, dopamin adalah hormon pencari dan antisipasi, bukan sekadar hormon kenikmatan.
Saat Anda melakukan scrolling di media sosial, otak Anda berada dalam kondisi variable reward schedule—seperti orang yang memutar tuas mesin slot di kasino. Anda tidak pernah tahu postingan apa yang akan muncul berikutnya:
-
Scroll 1: Foto makanan teman (biasa saja)
-
Scroll 2: Video kucing lucu (menyenangkan)
-
Scroll 3: Berita krisis ekonomi yang mengagetkan! (ancaman!)
Ketidakpastian informasi ini memicu lonjakan dopamin kecil yang terus menerus memprovokasi rasa penasaran: “Coba scroll sekali lagi, ada berita apa lagi ya?”
3. Illusion of Control (Ilusi Kendali)
Alasan emosional lain di balik doomscrolling adalah pencarian rasa aman yang semu. Ketika ada peristiwa buruk yang terjadi di dunia (seperti pandemi atau krisis), kita merasa kehilangan kendali atas hidup kita.
Otak kita berbisik bahwa dengan membaca semua detail berita buruk tersebut, kita sedang mempersiapkan diri dan “mengambil kembali kendali”. Padahal kenyataannya justru sebaliknya: mengonsumsi berita tragis secara berlebihan tidak membuat Anda lebih aman, melainkan hanya membanjiri tubuh Anda dengan hormon stres kortisol dan adrenalin secara terus-menerus.
Dampak Buruk Doomscrolling Bagi Kesehatan
Jika dibiarkan menjadi kebiasaan saban malam, doomscrolling dapat menggerogoti kualitas hidup Anda secara perlahan:
-
Insomnia Kronis: Paparan cahaya biru (blue light) merusak produksi hormon melatonin, sementara konten berita cemas membuat otak dalam kondisi siap siaga (fight-or-flight).
-
Kelelahan Empati (Empathy Fatigue): Diberondong oleh tragedi kemanusiaan setiap detik membuat emosi Anda menjadi tumpul dan mudah merasa hampa.
-
Kecemasan Tergeneralisasi: Memandang dunia sebagai tempat yang sepenuhnya berbahaya dan tidak aman.
Langkah Praktis Memutus Rantai Doomscrolling
Anda tidak perlu membuang smartphone Anda ke laut untuk keluar dari jebakan ini. Cukup terapkan batas-batas yang tegas berikut:
-
Tetapkan “Pemberhentian Fisik”: Gunakan fitur App Timer pada ponsel Anda untuk membatasi media sosial maksimal 30-45 menit per hari.
-
Buat Aturan Karantina HP di Kamar Tidur: Jauhkan ponsel dari jangkauan tangan saat Anda sudah berbaring di tempat tidur. Gunakan jam waker fisik analog untuk alarm pagi Anda.
-
Imbangi dengan “Joystrolling”: Secara sadar latih algoritma media sosial Anda. Follow akun-akun yang menyajikan keindahan alam, edukasi positif, seni, atau humor untuk menetralkan umpan berita Anda.
Dunia memang penuh dengan masalah, tetapi mengorbankan kesehatan mental Anda setiap malam tidak akan menyelesaikan masalah dunia tersebut. Rawatlah pikiran Anda sebelum Anda mencoba merawat hal lainnya.