Mengapa Musik Bisa Bikin Merinding? Sains di Balik Fenomena “Frisson”

Bayangkan Anda sedang mendengarkan sebuah lagu favorit. Musik mengalun pelan, instrumen mulai berakumulasi, penyanyi mengambil napas panjang, dan ketika puncak nada tinggi (high note) atau modulasi kunci dipetik dengan sempurna—sekonyong-konyong Anda merasakan getaran aneh merambat dari tengkuk turun ke lengan Anda. Bulu kuduk Anda berdiri, dan kulit Anda bergidik halus.

Pengalaman estetika yang luar biasa ini dikenal dalam istilah ilmiah sebagai Frisson (diucapkan free-sawn), sebuah kata dalam bahasa Prancis yang berarti “merinding estetis” atau “sensasi dingin yang menyenangkan”.

Mengapa alunan suara atau kombinasi frekuensi udara yang membal di gendang telinga sanggup memicu reaksi fisik intensif hingga membuat bulu kuduk kita berdiri? Mari kita bedah misteri biologis di baliknya.

Seseorang sedang memejamkan mata menikmati musik menggunakan headphone berkualitas tinggi 2

Reaksi Purba Ancaman yang Berubah Menjadi Kenikmatan

Dari sudut pandang biologis, merinding (goosebumps) sebenarnya adalah mekanisme pertahanan hidup purba yang diwarisi dari nenek moyang mamalia kita.

Ketika nenek moyang kita menghadapi bahaya mendadak (seperti penurunan suhu secara drastis atau ancaman predator), sistem saraf simpatik merangsang otot-otot kecil di dasar folikel rambut (arrector pili) untuk berkontraksi. Ini membuat bulu tubuh berdiri tegak berfungsi untuk menahan lapisan udara hangat saat dingin, atau membuat ukuran tubuh terlihat lebih besar dan menakutkan di hadapan musuh.

Lantas, bagaimana musik yang indah bisa memicu respons refleks ancaman ini?

Elemen Kejutan dalam Musik (Musical Expectations)

Otak manusia adalah mesin penyusun prediksi yang konstan. Saat Anda mendengarkan musik, otak Anda secara tidak sadar terus menebak nada, tempo, atau harmoni apa yang akan muncul berikutnya berdasarkan struktur lagu yang sudah familiar bagi Anda.

Fenomena Frisson paling sering terjadi ketika pencipta lagu secara sengaja melanggar prediksi otak Anda dengan cara yang indah. Hal ini bisa terjadi melalui:

  • Perubahan dinamika suara yang mendadak (dari sangat pelan tiba-tiba menjadi sangat keras).

  • Modulasi kunci nada (key change) yang tidak terduga.

  • Kemunculan instrumen baru atau solo vokal yang melengking tinggi.

Ketika perubahan mendadak ini terjadi, bagian otak amigdala (pusat pemrosesan emosi dan ancaman) menginterpretasikannya sebagai kejutan atau potensi bahaya kecil, yang memicu refleks merinding instan.

Namun, hanya dalam hitungan milidetik, bagian otak rasional Anda (cortex) menyadari bahwa kejutan tersebut bukanlah ancaman nyata melainkan harmoni musik yang indah. Otak pun seketika mengubah alarm bahaya tersebut menjadi sensasi kenikmatan emosional yang mendalam!

Ledakan Dopamin di Otak

Sensasi nikmat saat mengalami frisson diperkuat oleh zat kimia otak. Penelitian yang menggunakan pemindaian PET scan dari McGill University menemukan bahwa saat seseorang mengalami frisson musik, otak melepaskan zat dopamin di area striatum—wilayah otak yang sama yang aktif saat kita menikmati makanan lezat atau memenangkan hadiah.

Uniknya, otak melepaskan dopamin dalam dua tahapan:

  1. Fase Antisipasi: Dopamin mulai dilepas saat Anda tahu bagian puncak lagu yang indah akan segera datang.

  2. Fase Puncak (Puncak Frisson): Otak dibanjiri dopamin dalam jumlah melimpah tepat saat kejutan nada tersebut ertiup.

Apakah Semua Orang Bisa Merasakan Frisson?

Menariknya, tidak semua orang di dunia bisa merasakan fenomena merinding saat mendengarkan musik. Penelitian memperkirakan bahwa hanya sekitar 50 hingga 65 persen populasi manusia yang pernah mengalami frisson.

Mengapa ada perbedaan ini?

Studi yang dipimpin oleh Matthew Sachs dari Harvard University mengamati struktur otak orang-orang yang sering mengalami frisson. Hasil pemindaian menunjukkan bahwa kelompok ini memiliki volume serat saraf yang lebih padat yang menghubungkan korteks pendengaran (area pemroses suara) dengan sistem limbik (area pemroses emosi).

Dengan kata lain, orang yang mudah merinding saat mendengarkan musik memiliki “kabel jaringan” otak yang lebih efisien dan terhubung erat antara pendengaran dan emosi mereka. Selain itu, orang yang memiliki sifat kepribadian Openness to Experience (terbuka pada hal baru, imajinatif, dan menyukai seni) terbukti jauh lebih sering mengalami fenomena ini.

Musik bukan sekadar hiburan penjelang waktu sepi, melainkan salah satu bentuk komunikasi emosional paling kompleks yang mampu menggetarkan biologi tubuh kita hingga ke saraf terdalam.